Klien
pernah mengalami trauma diperkosa oleh pamannya sehingga ia sangat membenci
pamannya dan berusaha melupakannya. Terapis mencoba menggali informasi dengan
membuat klien mengingatnya sehingga memancing emosi klien maka klien diberikan pelampiasan
yaitu sebuah ruangan dimana klien dapat mengekspresikan kemarahannya seperti
berteriak sekeras-kerasnya didalam ruangan katarsis atau meninju boneka, ini
merupakan contoh kasus dari asosiasi bebas (psikoanalisis) dimana klien dibiarkan untuk
memunculkan ketidaksadarannya. Hal ini juga berkaitan dengan proses katarsis. Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pendiri psikoanalisis. menurut Freud pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan, merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau menyimpang Asosiasi
bebas sendiri merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Terapis meminta klien
agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan
sehari-hari, serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas
dalam pikirannya tanpa perlu berusaha membuat uraian yang logis, teratur dan
penuh arti. Cara yang khas lainnya untuk asosiasi bebas adalah dengan
mempersilakan klien berbaring di atas balai-balai sementara terapis duduk di
belakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat
asosiasinya mengalir dengan bebas (Corey, 1995).
Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. (Corey, 1995).
Teknik asosiasi bebas dilakukan setelah wawancara-wawancara pendahuluan oleh terapis. Setelah itu klien diberi sebuah kata dan diminta oleh terapis untuk menjawab dengan kata pertama yang muncul di dalam pikiran. Peranan terapis pada teknik ini bersifat pasif. Terapis duduk dan mendengarkan, kadang-kadang mendorong klien dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan bila klien kehabisan kata-kata. Ketika sedang asosiasi bebas, terapis tidak melakukan interupsi bila klien sedang berbicara. Dengan melaporkan segala sesuatu tanpa ada yang disembunyikan, klien terhanyut bersama segala perasaan dan pikirannya. Untuk meminimalisasikan pengaruh gangguan dari luar, klien diminta untuk berbaring di atas dipan dalam ruangan yang tenang. Posisi terapis duduk berada di belakang klien agar tidak mengalihkan perhatian klien ketika berbicara, yakni pada saat asosiasi-asosiasinya mengalir dengan jelas.
Proses interpretasi Selama asosiasi bebas berlangsung tugas terapis adalah mengenali tanda-tanda yang direpresikan dan dikurung dalam ketidaksadaran. Urutan asosiasi bebas yang dikemukakan oleh klien membantu terapis memahami hubungan-hubungan yang dibuat oleh klien di antara peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Hambatan-hambatan yang dilakukan klien terhadap asosiasi-asosiasi merupakan tanda adanya kecemasan. Terapis menginterpretasikan tanda tersebut dan menyampaikannya kepada klien. Lalu terapis membantu membimbing klien ke arah pemahaman terhadap dinamika-dinamika yang mendasarinya dan yang tidak disadari oleh klien. Asosiasi-asosiasi yang dikemukakan oleh klien dicatat oleh terapis sedikit demi sedikit. Perasaan-perasaan yang meskipun tampak tidak berhubungan, tidak logis, dan urutan waktunya salah secara emosional tetap akan saling berhubungan. Dari wawancara pendahuluan yang sudah dilakukan terapis dan observasi terhadap klien melalui pengalaman terapi, terapis akan mengetahui makna dari asosiasi-asosiasi yang diungkapkan oleh klien.
B.
Kelebihan dan Kekurangan Terapi Psikoanalisis
Kelebihan :
Ø Terapi ini memiliki dasar teori
yang kuat.
Ø Dengan terapi ini terapis bisa
lebih mengetahui masalah pada diri klien, karena prosesnya dimulai dari mencari
tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien.
Ø Terapi ini bisa membuat klien
mengetahui masalah apa yang selama ini tidak disadarinya.
Kekurangan
Ø Waktu yang dibutuhkan dalam
terapi terlalu panjang
Ø Memakan banyak biaya bagi klien
Ø Karena waktunya lama, bisa
membuat klien menjadi jenuh
Ø Diperlukan terapis yang
benar-benar terlatih untuk melakukan terapi
REFERENSI
:
Basuki,
A.M. Heru. (2008). Psikologi Umum.
Jakarta: Universitas Gunadarma.
Anonim.
(2009). PSIKOTERAPI. (http://psychologygroups.blogspot.com/2009/03/psikoterapi.html).
Hadi.
(2014). Teori Psikoanalisa, Terapi, dan
Contoh Kasus. (http://hadiway.blogspot.com/2014/05/teori-psikoanalisa-terapi-dan-contoh.html).
Miftah.
(2010). Terapi Psikis. (http://kindoftherapy.blogspot.com/2010/08/terapi-psikis-psikoanalisa.html)
kartika.
(2013). Terapi dengan Pendekatan
Psikoanalitik. (https://namiho.wordpress.com/2013/03/17/terapi-dengan-pendekatan-psikoanalitik/)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar